angkot as my lifestyle


Setelah aku ceritain semua kehidupan di kampus, pasti kalian penasaran kannn aku ke kampus sejauh ini naik apaa ssiihh??!!

Setiap hari, hidupku dimulai dengan alarm dan diakhiri dengan… angkot. Yup, aku adalah penganut angkotcore lifestyle, sebuah aliran hidup yang katanya “raw, aesthetic, chaotic, tapi tetep hemat”.

Pagi-pagi banget aku udah berdiri di pinggir jalan, ditemani matahari yang baru bangun dan bapak-bapak yang masih sibuk sama rokok pertamanya. Misi pertama: angkot 06. Begitu naik, aku langsung aktifin mode penumpang ideal: duduk rapih, tas di pangkuan, pasang earphone, dengerin playlist yang isinya sadsong dan pura-pura lihat luar padahal lagi menghitung apakah ongkosnya masih sama atau udah naik.

Sampai titik transit, alias lampu merah salabenda aku turun nih, jalan sedikit (yang bikin lumayan keringetan apalagi kalau siang beeuuhhh) buat lanjut ke angkot kedua yaitu angkot hijau nomor 16 (salabenda-pasar anyar). Nah di angkot ini penumpangnya jujurr banyaakkk disetiap jalan ada aja yg naik, kadang nih ya kadang udah penuh bangeettt, abangnya tetep maksa buat penumpangnya naik yang bikin makin sesek dan sumpek๐Ÿ˜Š

Core yang selanjutnya sering terjadi di angkot adalah...
kadang kalau aku duduk terlalu ke dalam, terus mau bilang, “Bang, lampu merah kiri ya,” suaraku suka nggak kedengeran. Alhasil aku sering kebablasan sampai tengah lampu merah dan baru diturunin di situ. Kadang abangnya juga ngomel, “Kenapa nggak ngomong dari tadi?” — bang plis ya, aku udah ngomong sekuat tenaga dan dengan intonasi terbaikku, abangnya aja yang nggak denger ๐Ÿ˜ญ

Terus, ada momen angkotnya ngebut parah. Ini mah keturunan Rossi sih abangnya. Seru sih, tapi deg-degan juga. Yang bikin takut itu kalau dia udah mulai nyalip-nyalip, terus diomelin sama pengendara lain, dan tiba-tiba saling bales klakson. Beeuhhh, disitu aku cuma bisa nunduk takut kejadian yang nggak-nggak.

Tapi nggak selalu ngebut. Ada kalanya lambaaaattt bangeeettt. Sumpah, kalau udah telat tuh rasanya gelisah banget. Kenapa pula dapet angkot yang stop tiap dua meter, nungguin penumpang lama, eh ternyata orangnya nggak jadi naik. Belum lagi kalau abangnya isi bensin dulu. Dan yang paling epic? Aku dan beberapa penumpang pernah diturunin di tengah jalan dan dioper ke angkot lain ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

Banyak banget momen kocak, absurd, dan seru selama naik angkot. Capek iya, ketawa iya, deg-degan apalagi.



Setiap naik angkot, rasanya aku selalu diingetin bahwa hidup ini bukan cuma tentang aku. Di bangku panjang yang sempit itu, aku duduk bareng orang-orang yang sama-sama sedang menjalani harinya, sama-sama lelah, tapi tetap melanjutkan perjalanan.

Kadang aku melihat seorang ibu yang memeluk tas belanjaannya erat, mungkin habis bekerja seharian. Di sebelahnya ada anak sekolah yang matanya setengah tertutup karena pulang terlalu sore. Ada juga pekerja yang menatap keluar jendela dengan pikiran entah kemana, mungkin memikirkan target, tagihan, atau sekadar ingin cepat sampai rumah. Dan di antara mereka, ada aku—yang juga lagi berjuang dengan caraku sendiri.

Dari perjalanan-perjalanan singkat itu, aku belajar bahwa semua orang punya cerita yang nggak pernah kelihatan dari luar. Kita cuma bertemu sebentar di satu angkot yang sama, tapi masing-masing membawa beban, harapan, dan kekhawatiran yang berbeda. Kadang hanya dari cara seseorang menghela napas, aku bisa merasa bahwa hari mereka berat.


Komentar